telah tujuh tahun aku meninggalkan desa hingga kini aku rindu untuk menginjak kembali kakikku di tanah kelahiran, betapa besar gelorah hatiku untuk segera dapat mengakhiri perjalanan dan pengembaraan alangkah jelas bayangan itu, suara air terjun di samping jembatan, terdengar bertambah keras seperti memanggil-manggil. ada sesuatu yang memendam rasa.ada sesuatu yang kurasa memanggilku, apa gerangan yang dapat di berikan ke pada hapil , adik satu-satuku yang tercinta di dunia ini.
langkah-langkah di lalui jembatan kayu yang tua itu dengan angan-angan dalam hati untuk pulang kembali ke kampung halamanku, matahari yang semakin pudar sinarnya telah menyimbunyikan diri di balik gunung wilis.tinggal cahaya menembusi langit memberikan ciuman terakhir pada mendun, yang berarak di atas kepalanya di ikuti dengan turunnya senja kala itu di sambut oleh kesepian, burung-burung yang pulang kembali keseran malas berkicau. kini aku dapat membayangkan seluruh, seperti waktu pengembaraan tak pernah ada, aku ingat akan seluruh kehidupan dalam desaku dengan jelas serasa tujuh tahun adalah kemarin pagi, aku tida mengerti kekuatan apa yang telah meniadaku, pengertian waktu untuk manusia, aku telah berdiri di samping pagar rumah yang tidak jauh berbeda sejak di tinggalkan selama tujuh tahun, segala yang ada di hadapan menjadikan, aku yakin baru kemarin pagi aku meninggalkan rumah dengan di iringi tangis dan air mata. kini aku telah kembali berada di kampung halamnku, alangkah asingnya perasaan yang timbul pada diriku,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,OH............alangkah tenteram dan bahagiaku untuk dapat pulang kembali. pendopo kelurahan telah ramai orang, telah banyak yang datang, malam itu adalah pertama kali hapil menampakkan diri diantara orang ramai sejak aku pulang ke kampung, jika saya yang merasa hadir telah cukup aku akan mulai berkata tentang maksud pertemuan malam itu, keputusan malam itu pendek dan jelas. desa hingga memperbaiki makan parda dan gamik sebagai pengharggaan atas jasa-jasa mereka.